Analis: Dampak Virus Corona Ancam Sektor Industri hingga Pariwisata

Total Views : 23
Zoom In Zoom Out Baca Nanti Print

INDONESIANEWS.ID: Dampak virus corona diperkirakan akan berimbas cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto menyebut kondisi itu dapat muncul karena Tiongkok menjadi salah satu negara tujuan ekspor Tanah Air. “Kami melihat pertumbuhan ekonomi China dapat melambat signifikan tahun ini. Imbasnya ke Indonesia terutama pada ekspor barang mentah, seperti batu bara dan sawit,” kata Media, Sabtu (8/2).

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah Redjalam berpendapat pandemi virus corona akan berimbas sangat cepat ke sektor keuangan dan pariwisata. “IHSG (indeks harga saham gabungan) sudah turun drastis dan rupiah terdepresiasi akibat sentimen negatif yang muncul,” ucap Pieter. Di sektor pariwisata, ia memperkirakan jumlah wisatawan dari Tiongkok akan menurun drastis. Apalagi saat ini pemerintah Beijing menerapkan karantina kepada puluhan juta warganya untuk menghindari penyebaran penyakit pernapasan yang awalnya muncul di kota Wuhan tersebut.

Penurunan jumlah turis otomatis berdampak ke bisnis lainnya, seperti transportasi, hotel, restoran, tempat wisata, dan lainnya. Di sisi lain, kebijakan menghentikan impor barang dari China akan menghantam sektor industri. “Ada potensi berkurangnya ketersediaan bahan baku untuk industri manufaktur kita,” katanya. Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama sedikit optimistis. Dampak negatif virus corona ke perekonomian mulai berkurang. Pasalnya, para ahli sedang mengembangkan vaksin untuk menghambat pertumbuhan virus itu. Dilansir katadata.

Pada bulan ini, menurut Aji, pergerakan indeks tidak akan mengalami penurunan signifikan seperti Januari lalu. Pelaku pasar akan lebih memperhatikan kondisi makro ekonomi domestik, seperti defisit neraca dagang dan perkembangan rencana penerbitan omnibus law. “Pasar masih menunggu katalis positif,” ucapnya. Virus corona per hari ini telah menginfeksi 34.958 orang. Jumlah korban meninggal mencapai 724 orang, mayoritas berada di Tiongkok. Kasus pasien yang berhasil disembuhkan mencapai 2.355 orang. []