oleh

M.S. Kaban Terkait Sistem Threshold Pemilu: Kok Malah Dibatasi?

INDONESIANEWS.ID, Bogor: Wakil Ketua Dewan Syura Partai Ummat, M.S. Kaban mengkritik sistem threshold dalam Pemilu yang dinilai bertentangan dengan makna demokrasi itu sendiri.

“Itu merupakan buah dan konsekuensi dari sistem yang ada. Maksudnya apa? dibikin threshold, kalau kita cinta Demokrasi harusnya diberi kebebasan, kok malah dibatasi? Jadi dari istilahnya saja sudah salah, logikanya sudah nggak main,” sebut Kaban dari kediamannya di Sentul, Bogor dalam acara podcast MULHANDY TV, Jum’at (19/11/2021).

Ia mengutarakan, suara partai yang gagal lewati threshold rawan diperjualbelikan dengan parpol lain yang lolos.

“Begitu diumumkan parpol itu tidak lolos threshold, suaranya hilang. Itu bisa diperjualbelikan, saya kira kalau ada wawancara tertutup dengan anggota dewan, itu saya yakin kalau mereka bicara dari hati nuraninya, pasti mereka sadar juga,” papar Kaban.

Hal ini, menurutnya, membuat trias politica menjadi tidak berjalan, sembari berkelakar dengan memplesetkan kata “executive” menjadi “executhief”.

“Apa artinya demokrasi jika masih ada transaksi suara? Jadi, trias politica yang disebutkan Executive, jadi “thief”. Legislatif, jadi thief. Yudikatif, jadi thief,” kelakarnya.

Adapun terkait persiapan Partai Ummat, mantan menteri Kehutanan tersebut mengakui partainya telah lebih siap dan matang mengikuti Pemilu 2024 mendatang.

“Alhamdulillah Partai Ummat sekarang sudah siap, artinya dukungan publik, masyarakat dan orang-orang yang ingin bergabung sudah jauh lebih dewasa dan matang dalam penggalangan massa dan sebagainya. Jadi partai Ummat sebagai peserta pemilu, saya rasa tinggal dari panitia pemilu bisa menetapkan aturan yang lebih fair,” pungkasnya.*(Redaksi)

Redaksi
Author: Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed